SURABAYA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tak lagi hanya menjadi konsumsi dunia industri dan perkantoran. Kini, teknologi tersebut mulai masuk ke ruang-ruang kelas pendidikan anak usia dini.
Sebanyak 60 guru TK dan PAUD dari Surabaya dan sekitarnya mengikuti pelatihan bertajuk “Guru Berkarya: Membuat Lagu Anak dan Video Edukasi Berbasis AI” di Royal Square Surabaya, Sabtu (27/6). Kegiatan yang diinisiasi IDE DAN AKU itu menjadi ruang bagi para guru untuk mengenal sekaligus mempraktikkan pemanfaatan AI sebagai media pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan.
Pelatihan tersebut mendapat dukungan dari Rumah Broadcast Public Speaking, Komnas Perlindungan Anak Surabaya, dan Jatimupdate.id.
Dalam kegiatan itu, para peserta diajak membuat lirik lagu anak, mengubahnya menjadi musik, hingga menyulapnya menjadi video edukasi hanya dalam hitungan menit. Seluruh proses dilakukan dengan memanfaatkan berbagai platform berbasis AI.

Pemateri, Dito Chrisdianto, mengatakan perkembangan teknologi tidak seharusnya ditakuti oleh para pendidik. Sebaliknya, AI dapat menjadi alat bantu yang memudahkan guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik bagi anak-anak.
“Guru tidak harus menjadi musisi atau editor video profesional. Dengan AI, ide-ide kreatif guru bisa diwujudkan lebih cepat sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan,” ujarnya.
Suasana pelatihan berlangsung hidup dan penuh antusiasme. Beberapa kali tepuk tangan terdengar ketika hasil karya peserta diputar di layar. Tidak sedikit peserta yang mengaku baru menyadari bahwa membuat lagu dan video pembelajaran ternyata dapat dilakukan dengan mudah.
Martha, guru dari TK At Taqwa, mengaku pelatihan tersebut memberinya perspektif baru dalam mengajar.
“Saya tidak menyangka AI bisa membantu guru membuat media pembelajaran sekreatif ini. Saya jadi semakin semangat menerapkannya di kelas agar anak-anak lebih antusias belajar,” katanya.
Hal serupa disampaikan Riana, guru dari TK Ananda Wiyung. Menurutnya, selama ini banyak ide kreatif yang hanya tersimpan di kepala karena keterbatasan kemampuan membuat media pembelajaran.
“Sekarang ide-ide itu bisa diwujudkan menjadi lagu dan video edukasi. Anak-anak pasti lebih senang belajar dengan metode seperti ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Komnas Perlindungan Anak Surabaya, Syaiful Bachri, mengapresiasi penyelenggaraan pelatihan tersebut.
Menurutnya, pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk dalam pemanfaatan teknologi digital.
“Kegiatan ini sangat positif dan sejalan dengan kebutuhan pendidikan saat ini yang dituntut kreatif dan inovatif. Kami berharap pelatihan seperti ini terus berlanjut dengan materi yang berbeda sehingga para guru semakin siap mendampingi generasi emas Indonesia,” tuturnya.
Pelatihan Guru Berkarya menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Perubahan justru dapat lahir dari ruang-ruang belajar sederhana, ketika para guru diberi kesempatan untuk terus mengembangkan diri dan beradaptasi dengan teknologi.
Karena di era digital, guru yang mampu bersahabat dengan AI bukan akan tergantikan, melainkan akan semakin dicintai murid-muridnya.












