Beranda / Hukum & Kriminal / Lagu MBG Pujian atau Sindiran, Ini Kata Aktivis Antikorupsi

Lagu MBG Pujian atau Sindiran, Ini Kata Aktivis Antikorupsi

Surabaya – Fenomena lagu viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” di media sosial kini mulai dibaca bukan lagi sebagai sekadar hiburan receh khas TikTok. Di balik lirik absurd, nada jenaka, dan pengulangan frasa “Mas Bahlil Ganteng”, muncul penilaian bahwa lagu tersebut sesungguhnya merupakan bentuk satire politik dan sindiran halus terhadap figur publik yang tengah ramai disorot publik..

Lagu yang pertama kali dipopulerkan akun TikTok @vokaliz_netizen itu memang dikemas ringan dan lucu. Namun sejumlah pengamat media sosial menilai pola humor semacam ini justru menjadi cara baru netizen menyampaikan kritik tanpa harus tampil frontal. Alih-alih menyerang langsung, kritik dibungkus dalam format meme, parodi, hingga lagu AI yang mudah viral.

Di berbagai forum diskusi internet, banyak warganet secara terang-terangan menyebut lagu tersebut sebagai bentuk “parodi”, “satire”, hingga “social manipulation” yang membuat tokoh politik berubah menjadi bahan candaan massal. Beberapa pengguna Reddit bahkan menilai publik perlahan diarahkan untuk menertawakan figur pejabat, bukan lagi fokus pada rekam jejak dan kontroversinya.

Salah satu unggahan Reddit yang ramai dikutip menyebut fenomena lagu “MBG” mirip dengan tren politik populer yang mengubah kritik menjadi hiburan. Warganet menulis bahwa tokoh yang semestinya dikritisi justru “dibikin lucu dan relatable” lewat meme dan lagu viral.

Meski demikian, kubu Partai Golkar justru menilai lagu tersebut sebagai bentuk apresiasi publik terhadap Ketua Umum mereka, Bahlil Lahadalia. Sejumlah elite Golkar menyebut lagu itu hanya kreativitas netizen yang bersifat menghibur dan tidak mengandung unsur sarkasme.

Namun pandangan berbeda disampaikan aktivis antikorupsi Dany Tri Handianto. Menurutnya, masyarakat perlu lebih kritis membaca fenomena viral di media sosial, terutama ketika menyangkut pejabat publik.

“Jangan sampai kritik sosial berubah menjadi pemujaan semu karena dibungkus lagu lucu dan meme viral. Humor politik memang sah, tetapi publik juga harus sadar bahwa budaya meme bisa mengaburkan substansi persoalan,” ujar Dany Tri Handianto, Sabtu (30/05/2026).

Dany menilai lagu “MBG” lebih tepat dibaca sebagai sindiran sosial ketimbang pujian tulus. Sebab, menurutnya, gaya lirik yang absurd, hiperbola berlebihan, hingga pengulangan kata-kata nyeleneh merupakan ciri khas satire digital yang kini berkembang di media sosial Indonesia.

“Kalau diperhatikan, liriknya terlalu berlebihan untuk disebut pujian serius. Itu lebih menyerupai ironi kolektif netizen. Mereka sedang menyindir dengan cara yang dianggap lucu dan aman,” katanya.

Fenomena ini sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya politik digital di Indonesia mulai bergeser. Kritik tidak lagi selalu muncul dalam bentuk demonstrasi atau tulisan panjang, melainkan lewat lagu AI, meme, video pendek, hingga humor viral yang mudah dikonsumsi publik.

Di sisi lain, sebagian netizen justru mengkhawatirkan efek normalisasi terhadap figur pejabat publik. Dalam sejumlah diskusi Reddit, muncul anggapan bahwa humor berlebihan dapat membuat publik perlahan melupakan kritik substantif terhadap kebijakan dan kontroversi yang pernah muncul.

Karena itu, lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” kini tidak lagi dipandang sekadar audio lucu TikTok. Bagi sebagian publik, lagu tersebut telah berubah menjadi simbol satire politik era digital — ketika sindiran paling tajam justru disampaikan lewat candaan yang terdengar ringan dan menghibur.(D3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *