Beranda / Ragam / Anak Makin Rentan, Orang Tua Jangan Sampai Kalah oleh Era Digital

Anak Makin Rentan, Orang Tua Jangan Sampai Kalah oleh Era Digital

SURABAYA – Tantangan mendidik anak di era digital semakin kompleks. Orang tua tidak cukup hanya memberikan aturan dan larangan. Pendampingan, komunikasi, serta pemahaman terhadap tumbuh kembang anak menjadi kunci agar anak mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan arah.

Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam materi parenting yang disampaikan Syaiful Bachri, praktisi perlindungan anak dan provotivator. Menurut materi yang disampaikan, anak merupakan amanah sekaligus karunia Tuhan yang memiliki harkat dan martabat sebagai manusia.

Karena itu, perlindungan anak tidak boleh dimaknai sebatas menjauhkan anak dari bahaya. Anak harus diberi ruang untuk tumbuh, berkembang, belajar, berpartisipasi, sekaligus mendapatkan perlindungan dari kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, pelecehan, maupun bentuk perlakuan salah lainnya.

Dalam materi tersebut juga ditekankan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih berada dalam kandungan sebagaimana ketentuan Undang-Undang Perlindungan Anak.

Ada sedikitnya 10 hak anak yang perlu diperhatikan. Mulai hak untuk bermain, mendapatkan makanan, pendidikan, perlindungan, nama, status kebangsaan, akses kesehatan, rekreasi, kesamaan, hingga memiliki peran dalam pembangunan.

Tantangan semakin besar ketika anak memasuki era digital. Perbedaan generasi antara orang tua dan anak dapat memunculkan kesenjangan dalam cara berkomunikasi maupun memahami teknologi.

Materi tersebut membagi generasi menjadi Builders, Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, Generasi Alpha, hingga Generasi Beta. Anak-anak generasi terbaru tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi dan media sosial.

Di sisi lain, berbagai persoalan mengintai. Mulai anak yang mengalami perilaku sosial menyimpang, menjadi pekerja anak, korban penculikan dan perdagangan, kekerasan fisik maupun psikis, bullying, kejahatan seksual, pornografi, penyalahgunaan NAPZA dan rokok, hingga anak yang berhadapan dengan hukum.

Persoalan lain yang juga disoroti adalah perkawinan anak, penelantaran, tidak memiliki akta kelahiran, hingga keterpaparan terhadap jaringan radikalisme dan terorisme.

Karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting. Orang tua didorong untuk terbuka terhadap perubahan, memiliki wawasan kebangsaan, memahami teknologi, serta tidak membiarkan anak menghadapi dunia digital seorang diri.

Komunikasi dengan pihak sekolah juga menjadi bagian penting. Pendidikan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga. Sekolah, masyarakat, dan media turut memiliki peran dalam membentuk karakter anak.

Konsep tersebut digambarkan sebagai catur pusat pendidikan, dengan keluarga sebagai pendidikan pertama dan utama, kemudian diperkuat melalui satuan pendidikan, masyarakat, serta media.

Pendampingan juga harus disesuaikan dengan usia dan karakter anak. Pada usia kelas 1–3 sekolah dasar, misalnya, anak masih berada dalam masa transisi dari dunia bermain di taman kanak-kanak menuju sistem pendidikan yang lebih formal.

Anak pada usia tersebut belum tentu mampu duduk dan berkonsentrasi dalam waktu lama. Karena itu, pendekatan belajar perlu disesuaikan dengan tahap perkembangannya.

Orang tua dapat membantu dengan menerapkan pola belajar sambil bermain, memberikan dukungan, menjadi teladan, serta menetapkan waktu belajar secara konsisten.

Yang tidak kalah penting, orang tua dan pendidik diminta mengenali karakter anak. Potensi dasar, pola pengasuhan, gaya belajar, bakat, kemampuan menyerap informasi, minat, hingga karakter perlu diperhatikan sebelum menentukan pola pendidikan.

Dengan memahami karakter tersebut, potensi anak dapat dikembangkan sesuai minat dan kemampuannya.

Pada akhirnya, perlindungan anak bukan sekadar membuat anak takut atau selalu menuruti keinginan orang tua. Perlindungan harus dilakukan dengan membekali anak menggunakan cinta, pengetahuan, komunikasi, dan pendampingan.

Anak yang merasa aman akan lebih berani bercerita ketika menghadapi persoalan.

Sebab, edukasi yang diberikan kepada anak hari ini bukan hanya untuk menghadapi persoalan sekarang. Lebih jauh, edukasi menjadi bagian dari perlindungan untuk masa depan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *