SURABAYA – Tantangan mendidik anak di era digital semakin kompleks. Orang tua tidak bisa sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah. Sebaliknya, diperlukan kolaborasi yang kuat antara keluarga dan sekolah agar tumbuh kembang anak berjalan optimal.
Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Parenting Perdana yang digelar RA Ad Dhuha bekerja sama dengan BG Junction Surabaya. Seminar mengangkat tema “Kolaborasi Orangtua dan Sekolah dalam Pola Pengasuhan Anak di Era Digital.”
Kegiatan tersebut diikuti wali murid, guru, dan karyawan RA Ad Dhuha. Sejumlah pejabat turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Febrina Kusumawati, S.Si., M.M., Kabid PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Surabaya Dr. Rosita Dwi Yuliandari, S.KM., M.Epid., serta Pengawas RA Dzurrotul Fikriyah, S.Ag. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal hingga akhir.
Kepala RA Ad Dhuha Aditya Rizki Himawan, SE, mengatakan pendidikan anak membutuhkan keterlibatan bersama. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting, tetapi keluarga tetap menjadi lingkungan pertama dalam pembentukan karakter anak.
“Pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Dibutuhkan sinergi antara guru dan orang tua,” ujarnya.
Baca juga :
https://radarjatim.net/2026/08/29/sinergi-atau-jalan-pintas-membaca-kritis-putusan-praperadilan-febrie-adriansyah/
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Febrina Kusumawati. Dia menegaskan keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak.
“Apa yang kita tanamkan di rumah akan berpengaruh besar terhadap sikap, karakter, dan akhlak mereka di sekolah maupun di masyarakat,” jelas Febrina.
Menurutnya, pola pendidikan di rumah dan sekolah harus berjalan searah. Dengan begitu, anak diharapkan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak mulia, serta memiliki karakter Islami sebagai bagian dari persiapan menuju generasi emas Indonesia.
Sementara itu, narasumber seminar Syaiful Bachri menyoroti pentingnya kesiapan orang tua dalam menghadapi perubahan zaman. Menurut dia, parenting tidak cukup hanya bermodalkan kasih sayang. Orang tua juga perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, serta dukungan yang berkelanjutan.
Dia mengajak para orang tua untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan dalam mendampingi anak.
“Anak-anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir sepenuh jiwa,” tuturnya.
Syaiful menjelaskan, tumbuh kembang anak dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya lingkungan, budaya, serta kepribadian. Karena itu, pendekatan pengasuhan juga tidak bisa disamaratakan.
Apalagi, anak-anak saat ini tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang begitu pesat. Kondisi tersebut membuat pola pengasuhan harus menyesuaikan dengan tantangan zaman.
Dia mengutip sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib RA: “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Menurut Syaiful, pesan tersebut relevan untuk menggambarkan pentingnya memahami dunia anak saat ini. Pola pendidikan yang diterapkan orang tua ketika masih kecil belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kondisi anak pada era digital.
Karena itu, orang tua didorong membangun kedekatan emosional dengan anak. Caranya antara lain melalui waktu berkualitas bersama, menunjukkan kasih sayang, memberikan dukungan dan apresiasi atas pencapaian maupun usaha anak, serta terlibat aktif dalam kegiatan dan minat mereka.
“Yang terpenting adalah membangun hubungan yang kuat melalui koneksi emosional dengan anak,” tegasnya.
Dia menambahkan, pendidikan anak bukan hanya berlangsung di ruang kelas. Pembentukan karakter juga terjadi setiap hari di lingkungan keluarga.
“Dengan kolaborasi yang baik antara orang tua dan sekolah, anak diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berakhlak, bertanggung jawab, serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa mendatang,” pungkas Syaiful.












