Beranda / Ragam / Masa Golden Age Anak Jangan Terlewat, Orang Tua Diminta Tak Paksa Calistung

Masa Golden Age Anak Jangan Terlewat, Orang Tua Diminta Tak Paksa Calistung

SURABAYA – Masa usia dini menjadi periode penting dalam membentuk tumbuh kembang dan karakter anak. Karena itu, orang tua diminta tidak menjadikan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan anak usia dini.

Hal tersebut disampaikan Bunda PAUD Kelurahan Ngagelrejo, Kota Surabaya, Apt. Citra Kurnisari, S.Farm., M.Farm-Klin, dalam Seminar Parenting bertajuk Kolaborasi Pola Pengasuhan Orang Tua dan Sekolah di Pos PAUD Terpadu (PPT) Cempaka RW II Ngagelrejo, Surabaya, Sabtu (29/8).

Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk menyamakan persepsi antara orang tua dan lembaga pendidikan, khususnya PPT Cempaka, mengenai pentingnya kolaborasi dalam pola pengasuhan dan pendampingan anak.

Citra menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang terlalu khawatir anaknya tertinggal sehingga memaksakan kemampuan calistung sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan di jenjang PAUD seharusnya lebih banyak diarahkan pada pengembangan kemampuan kognitif, sosial-emosional, komunikasi, serta pembentukan karakter.

“Di PAUD, anak-anak cukup diperkaya kosakatanya, pemahaman lisan, serta pengenalan huruf dan angka. Tidak wajib harus pandai membaca dan menghitung. Kenyataannya, banyak orang tua memberikan les karena takut anak ketinggalan, padahal proses di usia ini haruslah menyenangkan,” ujar Citra.

Baca juga :

https://radarjatim.net/2026/08/29/sinergi-atau-jalan-pintas-membaca-kritis-putusan-praperadilan-febrie-adriansyah/

Dia menjelaskan, usia 0–6 tahun merupakan periode emas atau golden age yang sangat menentukan perkembangan anak. Karena itu, stimulasi yang diberikan harus sesuai dengan tahapan tumbuh kembang dan dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Menurut Citra, ada empat pilar penting yang perlu dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini. Yakni mengenal lingkungan, kemampuan bahasa dan komunikasi, bersosialisasi, serta membangun kemandirian dan disiplin.

“Masa ini adalah jendela emas yang tidak boleh terlewatkan,” tegasnya.

Dia juga mengajak orang tua dan masyarakat ikut menyukseskan gerakan wajib belajar satu tahun pra-sekolah. Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan dukungan dan kesadaran bersama, terutama keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak.

“Mari kita perjuangkan bersama. Investasi terbaik untuk masa depan bangsa bukan berupa materi semata, melainkan pendidikan anak-anak kita sejak dini. Saya mengajak Bapak dan Ibu semua untuk menjadi orang tua yang sadar akan pentingnya masa emas ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua PPT Cempaka Sri Rahayu, S.Sos., mengatakan seminar parenting tersebut menjadi sarana belajar bersama bagi orang tua dan pendidik. Harapannya, komunikasi dan kolaborasi antara sekolah dengan keluarga semakin kuat dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“Kegiatan parenting ini menjadi wadah belajar bersama bagi para orang tua dan pendidik di PPT Cempaka. Sehingga terjalin kolaborasi dalam tumbuh kembang anak,” jelas Sri.

Dalam kegiatan tersebut, PPT Cempaka menghadirkan Syaiful, pemerhati anak sekaligus Ketua Komnas Perlindungan Anak Kota Surabaya, sebagai narasumber.

Syaiful menekankan pentingnya pendampingan anak sejak usia dini, terlebih di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin tidak terbatas.

Dia mengutip pesan Ali bin Abi Thalib RA, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”

Menurut Syaiful, pola pendidikan anak tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan pola pengasuhan yang diterima orang tua ketika masih kecil. Perkembangan zaman, terutama derasnya arus informasi dan teknologi digital, menghadirkan tantangan baru bagi keluarga.

Karena itu, pendampingan orang tua menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak. Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga harus diteruskan di lingkungan keluarga.

“Tidak semua pembelajaran anak ada di sekolah. Dengan kolaborasi antara orang tua dan sekolah, kita berharap anak-anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berakhlak, bertanggung jawab, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan yang mereka hadapi kelak,” pungkas Syaiful.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *