Bangkalan – Ribuan warga pesisir Pantai Utara Kabupaten Bangkalan memadati kawasan Pantai Tengket, Kecamatan Arosbaya, dalam tradisi tahunan Hajatan Laut atau Petik Laut. Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil tangkapan ikan sekaligus doa agar para nelayan selalu diberi keselamatan saat mencari nafkah di tengah laut.
Prosesi berlangsung khidmat sejak pagi. Seluruh rangkaian kegiatan diawali dari kediaman Kepala Desa Tengket, H. Suli, yang menjadi titik kumpul masyarakat, tokoh agama, serta tamu undangan sebelum iring-iringan menuju bibir pantai.
Sejumlah pejabat lintas sektor tampak hadir mengikuti prosesi tersebut. Di antaranya Camat Arosbaya, Kapolsek Arosbaya, Danramil, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangkalan, para ulama, serta unsur TNI AL dan Polri. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan terhadap pelestarian budaya masyarakat pesisir yang telah menjadi bagian dari identitas daerah.
Di sepanjang bibir pantai, puluhan perahu nelayan telah berjejer rapi. Kapal-kapal tradisional itu dihias beragam ornamen dan bendera Merah Putih. Berbagai hasil bumi, buah-buahan, hingga jajanan tradisional disusun sebagai sesaji yang kemudian diarak sebelum dilarung ke laut.
Sebelum prosesi larung sesaji dimulai, masyarakat bersama para tamu undangan menggelar doa bersama dan melantunkan sholawat Nabi. Suasana religius begitu terasa ketika ribuan warga larut dalam lantunan doa yang dipimpin tokoh agama setempat.
Tradisi Hajatan Laut bukan sekadar seremoni budaya. Bagi masyarakat nelayan, kegiatan tersebut menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, serta bentuk penghormatan terhadap alam yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Selain mempererat solidaritas warga pesisir, kegiatan tahunan ini juga menjadi ruang memperkuat sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan para tokoh agama. Diharapkan kolaborasi tersebut mampu menjaga kondusivitas wilayah pesisir sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan di Kabupaten Bangkalan.
Antusiasme masyarakat yang terus meningkat setiap tahun menjadi bukti bahwa tradisi Hajatan Laut tetap hidup dan menjadi warisan budaya yang layak dipertahankan di tengah perkembangan zaman.











