Beranda / Ragam / Belajar dari Titik “Ba”, Dany Tri Handianto: Ilmu Besar Berawal dari Kerendahan Hati

Belajar dari Titik “Ba”, Dany Tri Handianto: Ilmu Besar Berawal dari Kerendahan Hati

Surabaya – Di tengah derasnya arus informasi dan berkembangnya teknologi, nilai-nilai tentang adab dalam menuntut ilmu dinilai tetap relevan untuk dijadikan pedoman. Salah satu kisah yang terus hidup dalam tradisi Islam Nusantara adalah cerita tentang Sunan Kalijaga yang meminta diajari makna “titik ba” kepada gurunya, Sunan Bonang.

Meski telah dikenal sebagai sosok yang memiliki keluasan ilmu, Sunan Kalijaga diceritakan tetap datang kepada gurunya untuk mempelajari sesuatu yang tampak sederhana, yakni titik pada huruf ba (ب) dalam aksara Arab. Dalam tradisi tasawuf, kisah tersebut dipahami bukan sekadar pembelajaran tentang huruf, melainkan simbol perjalanan spiritual dan pentingnya adab dalam menuntut ilmu.

Praktisi hukum dari Institute for Justice and Humanity (IJH), Dany Tri Handianto, menilai kisah tersebut menyimpan pesan mendalam yang tetap relevan hingga saat ini.

“Pelajaran terbesar dari kisah Sunan Kalijaga bukan terletak pada titiknya, tetapi pada kerendahan hati seorang murid. Semakin tinggi ilmu seseorang, justru semakin sadar bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari,” ujar Dany, Minggu (21/6).

Menurutnya, dalam perspektif filsafat maupun tasawuf, titik pada huruf ba menjadi simbol bahwa sesuatu yang tampak kecil dapat menjadi penentu makna yang besar. Karena itu, seseorang tidak boleh meremehkan ilmu sekecil apa pun.

“Di dunia hukum pun demikian. Perkara besar sering kali ditentukan oleh detail yang dianggap sepele. Ketelitian, kejujuran, dan adab adalah fondasi utama dalam mencari kebenaran,” katanya.

Dany menambahkan, hubungan antara guru dan murid yang tergambar dalam kisah tersebut juga mengajarkan pentingnya penghormatan terhadap proses belajar. Menurutnya, kecerdasan tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sedangkan ilmu yang dibangun di atas kerendahan hati akan melahirkan kebijaksanaan.

Dalam khazanah tasawuf, terdapat ungkapan populer yang menyebut seluruh kandungan Al-Qur’an bermuara pada Al-Fatihah, Al-Fatihah pada Basmalah, Basmalah pada huruf ba, dan rahasia huruf ba berada pada titiknya. Ungkapan itu dipahami sebagai simbol bahwa hakikat ilmu berawal dari sesuatu yang paling sederhana.

Karena itu, Dany mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya mengejar pengetahuan, tetapi juga membangun karakter dan adab.

“Ilmu bukan hanya soal mengetahui, tetapi bagaimana ilmu itu membentuk akhlak. Kisah Sunan Kalijaga mengajarkan bahwa jalan menuju kebijaksanaan selalu diawali dengan kerendahan hati untuk terus belajar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *