SURABAYA – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah dalam menghadapi tantangan pengasuhan anak di era digital. Melalui kegiatan bertajuk “Kolaborasi Orang Tua & Sekolah dalam Pengasuhan Anak di Era Digital”, berbagai elemen masyarakat berkumpul untuk mengajak orang tua lebih aktif mendampingi tumbuh kembang anak.
Kegiatan yang digelar di BG Junction Surabaya, Minggu (26/7), mengusung tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Acara terselenggara berkat kolaborasi Parenting Cangkrukan Surabaya bersama KB-TK Islam Terpadu Khadijah Ash Shobaru serta sejumlah komunitas pemerhati anak.
Dalam paparannya, Ketua Komnas Perlindungan Anak Kota Surabaya, Syaiful Bachri, menegaskan bahwa tantangan pengasuhan saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik anak, tetapi juga perlindungan dari berbagai ancaman di ruang digital.

“Anak-anak membutuhkan kehadiran orang tua, bukan sekadar pengawasan. Pendampingan yang intens, komunikasi yang terbuka, dan kerja sama yang erat antara keluarga dengan sekolah menjadi benteng utama agar anak tumbuh sehat, aman, dan berkarakter,” ujar Syaiful.
Ia menambahkan, penggunaan gawai tanpa kontrol yang memadai dapat memengaruhi perkembangan psikologis maupun sosial anak. Karena itu, orang tua diminta tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan karakter kepada sekolah.
“Pengasuhan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah memberikan pendidikan, sementara keluarga menjadi tempat pertama anak belajar nilai, etika, dan kasih sayang. Ketika keduanya berjalan seiring, anak akan lebih siap menghadapi tantangan zaman,” katanya.
Selain sesi edukasi parenting, kegiatan juga menjadi ruang refleksi bagi para orang tua untuk mengevaluasi pola asuh yang selama ini diterapkan. Peserta diajak mengenali berbagai kesalahan pengasuhan yang kerap terjadi tanpa disadari, sekaligus mencari solusi agar tercipta lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
Penyelenggara berharap kegiatan ini mampu memperkuat kesadaran masyarakat bahwa perlindungan anak tidak cukup dilakukan melalui regulasi semata, melainkan harus diwujudkan melalui kolaborasi nyata antara orang tua, sekolah, komunitas, dan seluruh elemen masyarakat.
Semangat Hari Anak Nasional 2026 pun diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk menciptakan ruang yang aman, ramah, dan berpihak pada kepentingan terbaik bagi setiap anak Indonesia.












