Surabaya – Pendidikan anak tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik. Di balik capaian nilai rapor, ada hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan, yakni pembentukan karakter, akhlak, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab.
Kesadaran tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam kegiatan workshop parenting bertema kolaborasi orang tua dan sekolah dalam pengembangan karakter anak di SDN Pagerngumbuk 1.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Sebab, karakter yang kuat tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan pembiasaan, keteladanan, perhatian, dan pendampingan secara konsisten.
Keluarga dan sekolah memiliki peran yang saling melengkapi. Sekolah menjadi tempat anak memperoleh pendidikan sekaligus belajar bersosialisasi, sedangkan keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk mengenal nilai-nilai kehidupan.
Karena itu, nilai-nilai positif yang diajarkan guru di sekolah perlu mendapatkan penguatan dari orang tua di rumah. Begitu pula sebaliknya, kebiasaan baik yang ditanamkan keluarga harus didukung dalam lingkungan pendidikan.
Misalnya, ketika sekolah mengajarkan kedisiplinan dan ketepatan waktu, orang tua perlu membangun kebiasaan bangun pagi serta membiasakan anak mempersiapkan perlengkapan sekolah secara mandiri.
Demikian pula dalam menanamkan kejujuran. Anak tidak cukup hanya dinasihati agar berkata benar. Mereka juga membutuhkan contoh nyata dari orang dewasa di sekitarnya.
Keteladanan menjadi kunci penting dalam pendidikan karakter. Anak cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, orang tua dan guru perlu memberikan contoh dalam bertutur kata, menghargai orang lain, bersikap jujur, serta menyelesaikan persoalan dengan bijaksana.
Selain keteladanan, komunikasi positif juga menjadi fondasi penting dalam membangun karakter anak.
Orang tua dan guru perlu menyediakan ruang bagi anak untuk bercerita, menyampaikan perasaan, serta mengungkapkan pendapatnya. Menghargai usaha anak, memberikan apresiasi, dan menegur secara mendidik dapat membantu membangun kepercayaan diri sekaligus keterbukaan.
Pendekatan tersebut juga penting agar anak merasa didengarkan dan dipahami. Dengan demikian, proses pendidikan tidak hanya berorientasi pada kepatuhan, tetapi juga membantu anak memahami alasan di balik setiap aturan dan tanggung jawab.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah konsistensi antara pendidikan di rumah dan sekolah. Orang tua bersama guru perlu membangun kesepahaman mengenai nilai-nilai yang hendak ditanamkan kepada anak.
Nilai tersebut meliputi religiusitas, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, gotong royong, serta kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Keselarasan ini diharapkan membuat anak mendapatkan pesan pendidikan yang sama, baik ketika berada di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Workshop parenting pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut perlu menjadi awal komitmen bersama untuk membangun komunikasi yang terbuka, saling menghargai, dan saling mendukung demi kepentingan terbaik anak.
Sebab, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur melalui angka dalam rapor. Sikap santun, kemampuan menghormati orang lain, tanggung jawab, pengendalian diri, dan kebiasaan menerapkan nilai-nilai kebaikan juga menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan.
Melalui penguatan kolaborasi antara orang tua dan sekolah, SDN Pagerngumbuk 1 diharapkan mampu terus membangun lingkungan pendidikan yang mendukung lahirnya generasi berkarakter mulia, mandiri, berprestasi, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Pada akhirnya, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama. Anak-anak tidak hanya membutuhkan orang dewasa yang mampu mengarahkan, tetapi juga sosok yang memberikan teladan, bersedia mendengarkan, dan mendampingi mereka dengan penuh kasih sayang.
Sinergi keluarga dan sekolah menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa pendidikan tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk kepribadian dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan sejak dini.












