Beranda / Hukum & Kriminal / Nilai TKA Matematika Rendah, Komnas PA Minta Metode Pengajaran Dievaluasi

Nilai TKA Matematika Rendah, Komnas PA Minta Metode Pengajaran Dievaluasi

SURABAYA – Rendahnya capaian nilai Matematika dalam Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026 kembali menjadi sorotan. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya, Syaiful Bachri, menilai hasil tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi dunia pendidikan, terutama terkait metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah.

Menurut Syaiful, publik tidak perlu terburu-buru menyimpulkan bahwa rendahnya nilai TKA sepenuhnya mencerminkan kegagalan siswa. Ia menegaskan TKA bukan instrumen penentu kelulusan, melainkan alat ukur untuk melihat efektivitas proses pendidikan, mulai dari kualitas pengajaran hingga relevansi kurikulum yang digunakan.

Ia menilai hasil TKA seharusnya dibaca secara objektif sebagai cermin mutu pembelajaran. Karena itu, capaian akademik siswa tidak bisa hanya diukur dari satu kali tes, tetapi juga harus mempertimbangkan proses belajar yang tercermin dalam nilai rapor dan perkembangan peserta didik selama menempuh pendidikan.

Syaiful menambahkan, persoalan utama bukan sekadar angka yang muncul dalam hasil ujian, melainkan sejauh mana siswa mampu memahami konsep, meningkatkan literasi, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh di sekolah. Hasil TKA, kata dia, harus menjadi alarm bagi pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan untuk melakukan pembenahan menyeluruh.

Selain faktor sekolah, peran keluarga juga dinilai sangat menentukan. Pendampingan orang tua dan guru yang konsisten serta pendekatan belajar yang sesuai dengan karakter masing-masing anak dianggap menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Siswa, menurutnya, perlu mendapat dukungan dan motivasi, bukan tekanan yang justru dapat menurunkan kepercayaan diri mereka.

Sorotan terhadap rendahnya nilai TKA Matematika juga muncul dari berbagai kalangan pendidikan. Sejumlah akademisi dan pemerhati pendidikan menilai lemahnya kemampuan numerasi siswa tidak dapat dilepaskan dari metode pembelajaran yang masih kurang mendorong kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Faktor ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah, persepsi bahwa matematika adalah pelajaran sulit, hingga pengaruh distraksi digital turut disebut sebagai penyebab rendahnya capaian akademik siswa.

Berdasarkan data TKA 2026, rata-rata nilai Matematika jenjang SD tercatat 42,41, sedangkan SMP hanya 40,34. Angka tersebut berada jauh di bawah capaian rata-rata Bahasa Indonesia yang mencapai 60,14 untuk SD dan 60,83 untuk SMP. Sementara pada tingkat SMA/sederajat, rata-rata nilai Matematika hanya 36,1.

Kondisi ini memperkuat tuntutan agar pemerintah tidak hanya mengevaluasi peserta didik, tetapi juga melakukan audit menyeluruh terhadap sistem pembelajaran matematika, kompetensi tenaga pendidik, serta efektivitas kurikulum yang selama ini diterapkan di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *