Dalam tradisi pendidikan Islam, ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ilmu membutuhkan adab agar pengetahuan tidak sekadar memenuhi pikiran, tetapi juga membentuk sikap, akhlak, dan perilaku seseorang.
Karena itu, dalam tradisi pesantren dikenal ungkapan “Al-adabu fauqal ‘ilmi”—adab berada di atas ilmu. Meskipun redaksi tersebut lebih tepat dipahami sebagai ungkapan populer dan tidak semestinya dinisbatkan sebagai hadis atau perkataan pasti seorang ulama tertentu, maknanya memiliki akar yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam.
Pemikiran Burhanuddin az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum menempatkan adab sebagai bagian penting dalam proses memperoleh ilmu.
Bagi az-Zarnuji, menuntut ilmu bukan sekadar aktivitas intelektual. Seorang murid harus memiliki niat yang benar, menghormati guru, menghargai ilmu dan kitab, bersungguh-sungguh, sabar, serta menjaga perilakunya selama proses belajar.
Dengan demikian, keberhasilan seorang penuntut ilmu tidak hanya diukur dari berapa banyak pengetahuan yang dikuasai, tetapi juga dari bagaimana ilmu tersebut memengaruhi dirinya.
Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sombong; semakin bijaksana, bukan semakin merasa paling benar; dan semakin bermanfaat, bukan semakin merendahkan orang lain.
Di sinilah adab menjadi jembatan antara ilmu dan amal. Pemikiran tersebut kemudian menemukan bentuk yang sangat kuat dalam tradisi pesantren Nusantara melalui KH Hasyim Asy’ari, terutama dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim.
Kitab tersebut membahas secara khusus tata krama dan etika yang harus dimiliki oleh orang berilmu maupun pencari ilmu.
Bagi KH Hasyim Asy’ari, hubungan antara guru dan murid bukan semata-mata hubungan transfer pengetahuan. Di dalamnya terdapat penghormatan, keteladanan, kesungguhan, dan tanggung jawab moral.
Seorang murid tidak cukup hanya pandai menjawab pertanyaan, tetapi harus mampu menunjukkan akhlak dari ilmu yang dipelajarinya.
Begitu pula seorang guru tidak cukup hanya menguasai materi. Guru harus menjadi teladan melalui ucapan, sikap, dan perilakunya.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan tidak berhenti pada mencetak manusia yang pintar, tetapi berusaha melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.
Persoalan penting muncul ketika ilmu berkembang jauh lebih cepat daripada akhlak.Seseorang dapat memiliki gelar akademik, menguasai teknologi, memahami hukum, ekonomi, politik maupun agama. Namun apabila ilmu tersebut tidak disertai adab, pengetahuan dapat berubah menjadi alat untuk menyombongkan diri, merendahkan orang lain, bahkan membenarkan tindakan yang merugikan.
Karena itu, persoalannya bukan ilmu atau adab.Keduanya harus berjalan bersama.Ilmu memberikan arah pemahaman, sedangkan adab memberikan arah penggunaan ilmu.
Ilmu menjadikan seseorang mengetahui apa yang benar. Adab mengajarkan bagaimana menyampaikan dan menjalankan kebenaran tersebut dengan cara yang benar.
Ungkapan “adab di atas ilmu” juga tidak boleh disalahpahami sebagai merendahkan ilmu.Justru sebaliknya.Dalam tradisi ulama, adab dan ilmu merupakan dua hal yang saling melengkapi. Ilmu tanpa adab dapat kehilangan tujuan, sementara adab tanpa ilmu juga dapat kehilangan dasar pengetahuan.
Karena itu, prinsip yang lebih tepat adalah:Ilmu menerangi pikiran, adab menerangi perilaku.Orang yang berilmu tetapi tidak beradab mungkin mampu menjelaskan banyak hal, tetapi belum tentu mampu menjadi teladan.
Sebaliknya, orang yang beradab akan memahami bahwa semakin tinggi ilmu yang dimilikinya, semakin besar pula tanggung jawab moral yang harus dipikulnya.
Pesan Penting untuk Pendidikan Hari Ini. Pemikiran Az-Zarnuji dan KH Hasyim Asy’ari tetap relevan di tengah pendidikan modern.Di era ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, tantangan pendidikan bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana manusia mampu menyaring, memahami, dan menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.
Anak-anak dapat memperoleh pengetahuan dari buku, sekolah, internet, dan teknologi kecerdasan buatan. Namun mereka tetap membutuhkan sesuatu yang tidak dapat digantikan oleh teknologi: keteladanan, akhlak, penghormatan, tanggung jawab, dan adab.
Sebab pendidikan yang hanya menghasilkan manusia pintar belum tentu menghasilkan manusia bijaksana. Dari az-Zarnuji hingga KH Hasyim Asy’ari, tradisi pendidikan Islam memberikan pesan yang sama: ilmu harus melahirkan perubahan dalam diri manusia.
Ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya seberapa tinggi seseorang dapat berbicara tentang ilmu, tetapi seberapa baik ia bersikap setelah memiliki ilmu.
Maka, “Al-adabu fauqal ‘ilmi” dapat dipahami sebagai sebuah pengingat: Jangan sampai ilmu meninggikan kepala, tetapi justru merendahkan hati.
Sebab ilmu yang benar semestinya melahirkan adab, dan adab yang benar semestinya mengantarkan ilmu menjadi manfaat.(D3)












