SURABAYA – Gadget dan media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian anak. Karena itu, melarang sepenuhnya bukan lagi menjadi solusi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orang tua hadir, mendampingi, sekaligus membantu anak memilah berbagai informasi yang mereka konsumsi.
Pesan tersebut mengemuka dalam talkshow edukasi dan parenting yang digelar Komite Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya dalam rangkaian Festival Gerak dan Lagu Jingle Idola Anak di Ruang Arjuna RRI Surabaya, Minggu (9/8).
Festival yang digelar RRI Surabaya bersama CV Studio Perak itu sebenarnya merupakan ajang perlombaan menyanyi dan menari bagi anak-anak. Namun, kegiatan tidak berhenti pada panggung pertunjukan. Edukasi bagi orang tua juga menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 tersebut.
Talkshow dipandu Didi Adiyaksa, S.Psi., yang juga Sekretaris KPA Milenial Surabaya. Sementara narasumbernya adalah Ida Ayu Putri Widiarini, M.Psi., Psikolog dari Synergy Psikologi.
Bendahara Komnas PA Surabaya yang juga hipnoterapis anak, Rini Prijani, S.Kom., mengatakan perkembangan teknologi tidak seharusnya diposisikan sebagai musuh bagi anak.
Menurut dia, media sosial merupakan bagian dari perkembangan zaman yang tidak mungkin dihindari. Karena itu, orang tua justru harus membangun pola pendampingan agar anak mampu memahami mana konten yang memberikan manfaat dan mana yang berpotensi memberikan dampak buruk.
”Media sosial saat ini memang tidak bisa kita musuhi. Kita harus berjalan berdampingan dengan perkembangan zaman. Hanya saja, perlu kita perhatikan bagaimana anak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” ujar Rini saat diwawancarai RRI seusai acara.
Dia menambahkan, orang tua mempunyai posisi penting dalam menentukan pola konsumsi media anak. Bukan sekadar mengawasi, tetapi juga memberikan contoh konkret dalam penggunaan teknologi sehari-hari.
Pendampingan tersebut, kata Rini, perlu diperkuat dengan peran guru di sekolah. Sebab, pendidikan anak tidak hanya berlangsung di rumah.
”Memang peran dominan pasti orang tua, tapi kita jangan lupa ada guru yang juga tidak kalah penting perannya. Kami tentu mendorong para guru untuk memberikan intensitas pola pendidikan yang ramah, namun juga mampu menekan dampak negatif dari media sosial,” katanya.
Rini menilai kegiatan kreatif seperti Festival Gerak dan Lagu Jingle Idola Anak dapat menjadi salah satu sarana positif untuk mengembangkan kemampuan anak. Anak tidak hanya berhadapan dengan layar gadget, tetapi juga mendapatkan ruang untuk berinteraksi, berkreasi, dan tampil di depan orang lain.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Gerak dan Lagu Jingle Idola Anak, Haris Wibowo, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat sebagai wadah kreativitas anak, khususnya usia taman kanak-kanak.
Anak-anak diberikan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan menyanyi dan menari sekaligus melatih keberanian tampil di depan umum.
”Kegiatan ini sebenarnya untuk memperingati Hari Anak Nasional dan juga memasuki bulan kelahiran Republik Indonesia ke-81. Akhirnya kami menggelar acara ini sebagai wadah bagi anak-anak untuk bebas berkreasi dan melatih anak agar berani tampil di muka umum,” ungkap Haris.
Dia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar. Sebab, menurut Haris, panggung kreativitas untuk anak-anak seperti itu kini semakin jarang ditemukan.
”Apalagi acara semacam ini juga sudah jarang terselenggara. Kami ingin kesenian dan kreativitas anak tidak hilang oleh zaman,” tambahnya.
Dalam sesi parenting, psikolog Ida Ayu Putri Widiarini juga mengingatkan orang tua agar tidak terjebak pada pola pikir bahwa gadget selalu memberikan dampak buruk bagi anak.
Menurutnya, teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia. Gadget juga dapat menjadi sarana hiburan maupun pembelajaran apabila digunakan secara tepat.
Persoalannya bukan semata-mata pada gadget, melainkan bagaimana orang tua membangun hubungan dan pendampingan terhadap anak.
”Kami tidak ingin mengajak bapak dan ibu membenci gadget. Kenyataannya, teknologi memang diciptakan untuk memudahkan pekerjaan manusia dan menjadi hiburan ketika bosan,” jelas Ayu.
Namun, ia menekankan satu hal yang kerap terlupakan. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka membutuhkan orang tua yang hadir dan terhubung secara emosional.
”Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang hadir, terhubung, dan mau mendampingi mereka bertumbuh untuk mencapai generasi emas Indonesia,” tegasnya.
Festival tersebut diikuti 26 kelompok. Setiap kelompok beranggotakan sekitar lima hingga sepuluh peserta. Peserta tidak hanya berasal dari Surabaya, tetapi juga sejumlah kota dan kabupaten di Jawa Timur.
Dengan memadukan kreativitas anak dan edukasi parenting, kegiatan tersebut menjadi lebih dari sekadar perlombaan. Panggung anak sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus teknologi, kehadiran orang tua tetap menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang percaya diri, kreatif, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak.(r)












