Surabaya – Akses terhadap pendidikan berkualitas dinilai masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Sekolah-sekolah unggulan dengan fasilitas lengkap dan kualitas pembelajaran terbaik umumnya hanya dapat dijangkau oleh keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi memadai. Kondisi tersebut mendorong lahirnya sebuah gerakan pendidikan yang mengedepankan keadilan sosial.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, WISANGGENI INSTITUTE menggagas pendirian SMK Akselerasi Unggulan dengan masa pendidikan dua tahun. Program ini dirancang untuk mencetak tenaga ahli yang siap kerja, sekaligus membuka akses pendidikan berkualitas secara gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Inisiator WISANGGENI INSTITUTE, Dany Tri Handianto, menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak boleh menjadi hak eksklusif kelompok tertentu.
“Selama ini sekolah-sekolah yang bagus dan bonafide lebih banyak dinikmati oleh kalangan keluarga mapan. Anak-anak dari keluarga kurang mampu sering kali harus mengubur cita-citanya karena terbentur biaya. Padahal negara melalui Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan,” tegas Dany.
Menurutnya, WISANGGENI INSTITUTE lahir bukan sekadar mendirikan sekolah, tetapi membangun gerakan sosial di bidang pendidikan.

“Kami ingin memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Karena itu, SMK Akselerasi WISANGGENI INSTITUTE akan diperuntukkan khusus bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan biaya pendidikan gratis 100 persen. Mereka berhak mendapatkan fasilitas, kualitas pendidikan, dan kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Dany menjelaskan, sistem pendidikan yang akan diterapkan berorientasi pada kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Dengan masa studi dua tahun yang efektif dan berbasis kompetensi, peserta didik akan mendapatkan pembelajaran intensif, praktik industri, sertifikasi kompetensi, penguatan karakter, serta pembinaan kewirausahaan sehingga siap bersaing di dunia kerja.
Ia menambahkan bahwa Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Yang masih menjadi persoalan adalah kesempatan.
“Negeri ini memiliki jutaan anak cerdas. Yang kurang adalah kesempatan. Jangan sampai masa depan seorang anak ditentukan oleh kondisi ekonomi orang tuanya. WISANGGENI INSTITUTE ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana pun mampu menjadi tenaga ahli, profesional, bahkan pemimpin masa depan apabila diberikan akses pendidikan yang berkualitas,” katanya.
Program ini diharapkan menjadi model pendidikan vokasi yang berpihak kepada masyarakat kecil sekaligus menjawab kebutuhan industri terhadap tenaga kerja terampil. Di tengah tingginya angka pengangguran usia muda, SMK Akselerasi WISANGGENI INSTITUTE diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga memiliki integritas, daya saing global, dan semangat membangun bangsa.
Dengan mengusung semangat keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945, WISANGGENI INSTITUTE menegaskan bahwa pendidikan berkualitas bukanlah sebuah kemewahan, melainkan hak konstitusional setiap anak bangsa tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarganya.(A6)












