Beranda / Hukum & Kriminal / Di Tengah Euforia Piala Dunia, Judi Bola Mengintai: Jalan Pintas Menuju Kemiskinan dan Penjara

Di Tengah Euforia Piala Dunia, Judi Bola Mengintai: Jalan Pintas Menuju Kemiskinan dan Penjara

Surabaya – Perhelatan Piala Dunia kembali menyedot perhatian masyarakat. Namun, di balik kemeriahan pesta sepak bola terbesar di dunia itu, ancaman lama kembali muncul ke permukaan: maraknya praktik perjudian bola yang mengincar berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Fenomena ini menjadi ironi di tengah kondisi perekonomian yang masih berat. Harga sejumlah kebutuhan pokok terus merangkak naik, sementara sebagian masyarakat justru tergoda mencari keuntungan instan melalui taruhan sepak bola.

Tokoh masyarakat Eko Gagak mengingatkan bahwa perjudian bukan sekadar permainan untung-untungan, melainkan pintu masuk bagi lahirnya berbagai persoalan sosial dan kriminalitas.

“Ketika seseorang kalah dan seluruh uangnya habis di meja judi, keinginan untuk mendapatkan kembali modal sering kali membuat orang gelap mata. Tidak sedikit yang kemudian nekat melakukan pencurian, penipuan, penggelapan, bahkan tindak pidana lainnya,” ujar Eko.

Menurutnya, dampak perjudian tidak berhenti pada kerugian finansial semata. Judi juga menghancurkan ketenangan rumah tangga, menimbulkan konflik keluarga, dan menyeret pelakunya ke dalam lingkaran utang yang berkepanjangan.

“Judi membuat orang kehilangan akal sehat. Harta habis, pekerjaan terganggu, keluarga berantakan, dan pada akhirnya berujung pada proses hukum. Yang menjadi korban bukan hanya pelaku, tetapi juga anak dan istrinya,” tegasnya.

Eko menilai, bandar judi selalu menjadi pihak yang diuntungkan, sedangkan para pemain pada akhirnya hanya akan menjadi korban dari harapan palsu untuk memperoleh kekayaan secara cepat.

“Jangan sampai euforia Piala Dunia berubah menjadi petaka bagi keluarga. Tidak ada orang yang menjadi sejahtera karena judi. Yang ada justru kemiskinan, penyesalan, dan hilangnya masa depan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk menikmati pertandingan sepak bola sebagai hiburan dan sarana mempererat kebersamaan, bukan menjadikannya sebagai ajang taruhan.

“Pesan Rhoma Irama masih relevan hingga hari ini, bahwa judi adalah penyakit sosial yang merusak pikiran dan menghancurkan kehidupan. Jangan korbankan keluarga dan masa depan demi keuntungan sesaat yang belum tentu didapat,” pungkasnya.

Maraknya perjudian bola juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan aparat penegak hukum. Penindakan terhadap jaringan perjudian, baik konvensional maupun berbasis daring, dinilai harus terus ditingkatkan agar euforia olahraga tidak berubah menjadi pintu masuk lahirnya kemiskinan, kriminalitas, dan keretakan sosial di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *