SURABAYA – SD Taquma Surabaya menggelar acara pelepasan siswa sekaligus peluncuran tiga buku karya siswa, alumni, dan guru pada Minggu (7/6/2026). Kegiatan ini menjadi momen istimewa yang tidak hanya berfungsi sebagai ajang perpisahan, tetapi juga bukti nyata tumbuhnya budaya literasi di lingkungan sekolah.
Tiga buku yang resmi diluncurkan berjudul Analogi Kidung Kecil (karya alumni angkatan 2025/2026), Dummy Niskala Rasa, dan Pendar Aksara (karya para guru dan pendidik). Karya-karya ini kini tercatat resmi setelah sebelumnya sempat terhenti penyelenggaraannya tahun lalu karena kendala teknis, padahal tradisi ini sudah berjalan sejak 2022.
Kepala Sekolah SD Taquma Surabaya, Nur Rohmatul Izzah, ST.Spd, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi sekolah: santun, cerdas, kreatif, dan berprestasi. Ia menegaskan, dalam menilai prestasi siswa, akhlak atau kesantunan ditempatkan pada prioritas utama dibandingkan pencapaian akademik maupun kemampuan menulis.
“Santun di sini adalah akhlak anak. Peluncuran buku ini juga kami selenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Buku dan Perpustakaan Tahun 2026. Ini wujud nyata meninggalkan jejak digital melalui literasi, sekaligus wadah mempererat kebersamaan dan menumbuhkan semangat berkarya bagi seluruh warga sekolah,” ujar Izzah.
Pengawas SD/MI Kecamatan Wonocolo, Abdul Choir, M.M, menilai peluncuran buku ini sebagai bentuk apresiasi tinggi terhadap kreativitas dan penguatan budaya literasi. Menurutnya, momen ini sangat penting untuk mendorong minat baca dan kemampuan menulis, baik bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya (Bidang Pendidikan), Drs. Imam Syafii, S.H., M.H., dalam sambutannya memberikan apresiasi mendalam. Ia menyebutkan, anak-anak SD Taquma telah berani bersuara dan menuangkan gagasan—mulai dari kisah persahabatan, keindahan alam, hingga imajinasi tanpa batas.
“Di usia belia, mereka membuktikan tidak hanya pandai main gim atau media sosial, tapi juga bisa berkarya lewat tulisan. Mereka berbagi energi positif dan sudut pandang yang mungkin luput dari perhatian orang dewasa. Kreativitas ini tidak mengenal batas usia,” kata Imam Syafii.
Pemerintah Kota Surabaya melalui Ir. Yusuf Masruh, MM, mengapresiasi langkah ini yang sejalan dengan program unggulan Gendis Sewu (Gerakan Mendongeng dan Menulis Seribu). Program ini memang dirancang untuk memicu lahirnya karya kreatif dari berbagai kalangan.
“Kehadiran buku ini bukti semangat menulis di Surabaya terus tumbuh. Kami berharap karya ini tidak hanya menjadi bacaan, tapi menginspirasi lebih banyak orang untuk berkarya dan membawa dampak besar bagi kemajuan literasi kota,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Surabaya yang akrab disapa Cak Dji, dalam kata pengantarnya untuk buku Kidung Kecil Kita, menyebut karya ini sebagai bukti keberhasilan sekolah mengembangkan literasi. Ia bangga karena siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kreatif dan mampu mengekspresikan diri. Apresiasi juga disampaikan kepada para guru yang telah membimbing bakat anak-anak.
Sementara itu, Ketua Komnas Anak Surabaya, Syaiful Bachri, menilai kegiatan ini sangat relevan menjawab tantangan era digital. Di tengah banyaknya anak yang asyik dengan dunia maya dan gim, SD Taquma justru mengarahkan minat mereka ke budaya literasi. Hal ini sejalan dengan persiapan menuju Generasi Emas Indonesia 2045.
“Di tempat lain anak-anak asik dengan gawai, di sini mereka berkarya. Ini langkah luar biasa. Selamat dan sukses untuk keluarga besar SD Taquma Surabaya. Teruslah berkarya dan menjadi generasi berkemajuan,” pungkas Syaiful.












