Pasuruan – Kemeriahan kirab budaya yang semestinya menjadi ruang untuk merayakan kemerdekaan justru ternoda oleh kericuhan. Minimnya pengawasan membuat kegiatan yang melibatkan pemuda tersebut diduga berubah menjadi ajang tawuran. Tak hanya itu, aktivitas pesta minuman keras (miras) secara terbuka juga menjadi sorotan.
Seorang narasumber yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Menurutnya, para pemuda yang semula diundang untuk mengikuti kirab budaya justru terlibat dalam aksi yang jauh dari semangat perayaan kemerdekaan.
“Sungguh miris. Pemuda diundang untuk mengikuti kirab budaya, tetapi malah berubah menjadi ajang tawuran. Miras juga terlihat dikonsumsi secara terbuka,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai semakin memprihatinkan lantaran kegiatan berlangsung di lingkungan desa. Acara yang seharusnya menampilkan budaya dan kreativitas masyarakat justru disebut-sebut menyerupai hiburan malam berjalan.
Narasumber tersebut juga mempertanyakan kesiapan pemerintah desa dan panitia dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan yang muncul selama kegiatan berlangsung.
“Kalau Desa Karangjati Anyar berani membuat acara seperti ini yang tidak jauh seperti diskotek masuk desa, harus berani juga menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, termasuk persoalan keamanan dan ketertiban,” katanya.
Sorotan utama kini mengarah pada aspek pengawasan. Sebab, tanpa pengamanan dan pengendalian yang memadai, kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar berpotensi berubah menjadi keributan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Kepala Desa Karangjati Anyar maupun pihak panitia terkait dugaan tawuran, konsumsi miras secara terbuka, serta pelaksanaan pengawasan dalam kegiatan tersebut.
Konfirmasi dan klarifikasi dari pihak pemerintah desa maupun panitia masih diperlukan untuk memastikan rangkaian peristiwa yang terjadi serta langkah yang telah dilakukan selama kegiatan berlangsung.












