BANGKALAN – Produk petis yang menjadi salah satu potensi usaha masyarakat Desa Klampis Barat, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, mendapat perhatian dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM).
Melalui program Pengabdian Mandiri LPPM UTM, tim pengabdian memberikan pelatihan sekaligus pendampingan kepada pelaku UMKM petis, Senin (31/8/2026). Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam mengelola bisnis sekaligus memperkuat posisi produk lokal di tengah persaingan pasar.
Pendampingan mengangkat tema “Penguatan UMKM Petis di Desa Binaan Klampis Barat melalui Manajemen Usaha, Inovasi Produk, dan Digital Branding untuk Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing Lokal.”
Baca juga :
https://radarjatim.net/2026/08/29/sinergi-atau-jalan-pintas-membaca-kritis-putusan-praperadilan-febrie-adriansyah/
Tim pengabdian terdiri dari Dr. Netty Dyah Kurniasari, S.Sos., M.Med.Kom., Dr. Hj. Iriani Ismai, Dra., M.Ml., dan Dr. Banun Diyah Probowati, STP., M.S., dengan melibatkan mahasiswa, di antaranya Muhammad Albi Putra Pratama dan tim.
Program tersebut turut memperoleh dukungan dari Klebun Klampis Barat, Hj. Ulfatin Anisah. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah desa ini diharapkan dapat menjadi langkah nyata dalam mengembangkan potensi ekonomi masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan materi mengenai produksi. Mereka juga diajak melihat kembali bagaimana usaha dapat dikelola secara lebih profesional, mulai dari manajemen hingga strategi pengembangan produk.
Tim UTM menilai produk yang berkualitas perlu diimbangi dengan cara pemasaran yang mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen. Karena itu, pemanfaatan platform digital menjadi salah satu fokus utama dalam pendampingan.
Melalui digital branding, pelaku usaha dikenalkan pada pentingnya identitas produk, cara memperkenalkan produk secara menarik, serta pemanfaatan media digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Langkah tersebut dinilai penting agar produk petis Klampis Barat tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, inovasi juga menjadi perhatian dalam pendampingan. Pelaku UMKM didorong untuk terus melakukan pengembangan sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah dan mampu menyesuaikan dengan selera serta kebutuhan konsumen.
Dr. Netty Dyah Kurniasari mengatakan, pengembangan UMKM membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi.
“Penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui peningkatan kemampuan produksi, tetapi juga perlu didukung dengan manajemen usaha yang baik, inovasi produk, dan kemampuan membangun digital branding,” ujarnya.
Menurutnya, ketiga aspek tersebut memiliki peran penting dalam membangun daya saing produk lokal. Dengan pengelolaan usaha yang lebih baik dan strategi pemasaran yang tepat, produk UMKM diharapkan mampu berkembang mengikuti dinamika pasar.
Kegiatan berlangsung melalui pemaparan materi dan dialog langsung bersama pelaku UMKM. Dari proses tersebut, tim pengabdian turut mengidentifikasi berbagai persoalan yang selama ini menjadi tantangan dalam pengembangan usaha.
Pendampingan ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata. Pelaku UMKM diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas pengelolaan usaha, mengembangkan produk, serta memperluas pemasaran.
UTM berharap penguatan UMKM petis di Klampis Barat dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus mengangkat potensi produk lokal Madura agar memiliki daya saing yang semakin kuat.












