BANGKALAN – Di tengah masih melekatnya stigma negatif terhadap sebagian oknum anggota LSM dan insan pers, nama Hosnan, aktivis antikorupsi asal Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan, justru menghadirkan kisah berbeda. Ia membuktikan bahwa perjuangan mengawal kepentingan publik tidak menghalangi seseorang untuk mandiri secara ekonomi melalui kerja keras dan usaha yang halal.
Perjalanan Hosnan tidak dibangun dalam semalam. Bertahun-tahun aktif mengawal berbagai persoalan publik dan menyuarakan pemberantasan korupsi, ia juga merintis usaha peternakan ayam petelur dari skala yang sangat kecil. Modal awalnya hanya 10 ekor ayam petelur.
Berbekal ketekunan, disiplin, dan kesabaran, jumlah ternaknya terus bertambah. Kini, kandangnya dihuni sekitar 2.000 ekor ayam petelur yang setiap hari menghasilkan telur untuk dipasarkan ke berbagai pelanggan.
Dari usaha tersebut, Hosnan mengaku mampu memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp1 juta per hari. Capaian itu menjadi bukti bahwa seorang aktivis tidak harus bergantung pada jabatan, proyek, maupun meminta-minta keuntungan dari pihak lain.
“Bagi saya, independensi harus ditopang oleh kemandirian ekonomi. Ketika memiliki usaha sendiri, kita bisa tetap bersuara tanpa beban dan tidak mudah diintervensi,” ujarnya.
Kesuksesan itu sekaligus menjadi jawaban atas stigma yang selama ini kerap diarahkan kepada organisasi kemasyarakatan maupun media. Tidak sedikit masyarakat yang melabeli LSM sebagai “Lembaga Suka Malak” dan wartawan sebagai “tukang peras” akibat ulah segelintir oknum.
Hosnan menilai, cap tersebut tidak adil jika digeneralisasi kepada seluruh aktivis maupun insan pers. Menurutnya, masih banyak pegiat sosial dan jurnalis yang bekerja dengan integritas serta menjadikan profesinya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, ia memilih memberi contoh melalui tindakan nyata. Alih-alih memanfaatkan aktivitas advokasi untuk kepentingan pribadi, ia membangun usaha peternakan yang kini menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.
Perjalanan dari 10 ekor hingga 2.000 ekor ayam petelur juga menjadi pesan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari modal besar. Konsistensi, keberanian memulai dari bawah, serta kemauan untuk terus belajar menjadi fondasi utama yang mengantarkannya menuju kesuksesan.
Kisah Hosnan menjadi inspirasi bahwa aktivisme dan kewirausahaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru dengan kemandirian ekonomi, seorang aktivis memiliki ruang yang lebih luas untuk menjaga idealisme, menyuarakan kepentingan masyarakat, dan tetap berdiri di atas prinsip tanpa harus mengorbankan integritas.












